Informasi

Mengenal Negative Split dan Positive Split dalam Lari?

Negative split terjadi ketika paruh kedua lomba diselesaikan lebih cepat daripada paruh pertama, sedangkan positive split terjadi ketika paruh kedua lebih lambat. Artikel ini menjelaskan perbedaannya melalui tabel dan contoh perhitungan lomba 10K, membahas kelebihan serta keterbatasan strategi tersebut, dan memberikan panduan sederhana untuk mencoba negative split saat latihan.

Tim SepatuLari.id 6 menit baca
Mengenal Negative Split dan Positive Split dalam Lari?

Bayangkan Anda mengikuti lomba lari 10K. Lima kilometer pertama terasa ringan, tetapi setelah melewati kilometer keenam, napas mulai berat dan pace perlahan melambat. Anda tetap mencapai garis finis, tetapi separuh akhir lomba ternyata jauh lebih lambat daripada separuh awal.

Situasi tersebut merupakan contoh positive split. Sebaliknya, jika Anda berlari lebih terkendali pada paruh pertama lalu mampu meningkatkan kecepatan pada paruh kedua, strategi itu disebut negative split.

Kedua istilah ini menggambarkan bagaimana pelari membagi waktu dan kecepatan sepanjang lomba. Memahaminya membantu Anda mengevaluasi strategi pacing, bukan hanya melihat catatan waktu akhir.

Perbedaan negative split dan positive split

Perbedaan utamanya terletak pada perbandingan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan dua bagian lomba dengan jarak yang sama. Dalam lomba 10K, misalnya, Anda dapat membandingkan waktu 5K pertama dengan 5K kedua.

Aspek Negative split Positive split
Waktu paruh kedua Lebih singkat daripada paruh pertama Lebih lama daripada paruh pertama
Pola kecepatan Paruh kedua lebih cepat secara rata-rata Paruh kedua lebih lambat secara rata-rata
Contoh waktu 10K 26 menit + 24 menit 24 menit + 26 menit
Strategi yang umum digunakan Memulai secara terkendali, lalu meningkatkan usaha Memulai lebih cepat, kemudian mempertahankan atau mengelola penurunan kecepatan
Hal yang perlu diperhatikan Jangan meningkatkan kecepatan terlalu dini Hindari memulai terlalu agresif dibandingkan kemampuan

Even split adalah pola ketiga yang juga penting dipahami. Strategi ini berarti kedua paruh lomba diselesaikan dengan waktu yang relatif sama, sehingga kecepatan rata-rata sepanjang lomba cenderung konsisten.

Cara menghitung split dari catatan waktu

Anda tidak harus menggunakan jam olahraga dengan fitur analisis khusus untuk mengenali strategi ini. Catatan waktu di titik tengah lomba sudah cukup untuk membuat perbandingan sederhana.

Rumusnya adalah:

Selisih split = waktu paruh kedua − waktu paruh pertama

  • Hasil negatif berarti negative split.
  • Hasil positif berarti positive split.
  • Hasil nol berarti kedua paruh memiliki waktu yang sama, atau even split.

Perhitungan ini berlaku jika kedua bagian yang dibandingkan memiliki jarak yang sama. Jika jaraknya berbeda, waktu total saja tidak cukup untuk membandingkan kecepatan. Anda perlu menghitung pace masing-masing bagian.

Contoh pada lomba 10K

Misalkan seorang pelari menyelesaikan 10K dalam waktu 50 menit. Catatan waktunya menunjukkan bahwa 5K pertama selesai dalam 26 menit, sedangkan 5K kedua membutuhkan 24 menit.

Bagian lomba Waktu Pace rata-rata
5K pertama 26 menit 5:12 menit/km
5K kedua 24 menit 4:48 menit/km
Total 10K 50 menit 5:00 menit/km

Pelari tersebut mencatat negative split karena paruh kedua selesai dua menit lebih cepat. Pace rata-ratanya juga meningkat dari 5:12 menjadi 4:48 menit/km.

Sekarang bayangkan urutannya dibalik. Pelari menyelesaikan 5K pertama dalam 24 menit dan 5K kedua dalam 26 menit. Total waktunya tetap 50 menit, tetapi polanya berubah menjadi positive split.

Contoh ini menunjukkan bahwa dua pelari dapat memiliki waktu finis yang sama, tetapi menggunakan strategi pacing yang berbeda. Untuk menilai apakah strategi tersebut berhasil, waktu finis perlu dilihat bersama kondisi lomba, target, dan kemampuan pelari.

Apakah negative split selalu lebih baik?

Tidak selalu. Negative split dapat menjadi strategi yang berguna ketika pelari ingin memulai secara konservatif dan menyisakan tenaga untuk paruh akhir. Namun, keberhasilannya bergantung pada target, kondisi fisik, profil lintasan, cuaca, dan pengalaman mengatur kecepatan.

Strategi ini juga tidak berarti Anda harus berlari lambat pada awal lomba lalu melakukan sprint panjang di akhir. Peningkatan kecepatan sebaiknya tetap terkendali. Jika peningkatan dilakukan terlalu cepat, pelari justru bisa mengalami kelelahan sebelum mencapai garis finis.

Sementara itu, positive split tidak otomatis menandakan kegagalan. Perbedaan waktu antarkedua paruh dapat dipengaruhi tanjakan, angin, suhu, kepadatan peserta, atau kondisi tubuh yang berubah selama lomba lari. Pada lintasan dengan profil elevasi yang berbeda antara paruh pertama dan kedua, perbandingan waktu juga perlu ditafsirkan dengan hati-hati.

Meski demikian, memulai terlalu cepat dibandingkan kemampuan mempertahankan pace merupakan salah satu hal yang perlu diwaspadai. Pelari yang mengeluarkan usaha terlalu besar pada awal lomba dapat kesulitan mempertahankan kecepatan pada bagian akhir.

Sebuah tinjauan sistematis tentang strategi pacing maraton yang diterbitkan pada 2024 menemukan bahwa positive pacing lebih sering dilaporkan dalam studi yang ditinjau, meskipun pola pacing dipengaruhi berbagai faktor, termasuk jarak, usia, jenis kelamin, kemampuan, dan dinamika kelompok pelari. Temuan ini tidak berarti semua pelari harus mengejar negative split, tetapi menunjukkan pentingnya memahami bagaimana kecepatan didistribusikan sepanjang lomba.

Cara mencoba negative split saat latihan

Jika Anda ingin menguji strategi ini, latihan terkontrol dapat menjadi tempat awal sebelum menerapkannya pada lomba. Mulailah dengan jarak yang sudah biasa Anda tempuh, bukan langsung memaksakan strategi baru pada jarak terjauh.

Berikut contoh sesi sederhana untuk lari 10K. Angka pace di bawah merupakan ilustrasi, bukan target universal untuk semua pelari.

  1. Kilometer 1–5: berlari dengan pace yang terasa terkendali. Untuk contoh ini, gunakan pace rata-rata 6:00 menit/km.
  2. Kilometer 6–8: jika napas dan kondisi tubuh masih terkelola, tingkatkan kecepatan secara bertahap, misalnya menuju 5:50 menit/km.
  3. Kilometer 9–10: pertahankan atau tingkatkan sedikit lagi jika masih terasa nyaman dan teknik lari tetap baik.
  4. Setelah selesai: bandingkan waktu 5K pertama dengan 5K kedua. Catat juga bagaimana tingkat usaha dirasakan pada masing-masing bagian.

Tujuan latihan ini bukan memaksa paruh kedua selalu lebih cepat. Tujuannya adalah belajar mengendalikan usaha, mengenali pace yang realistis, dan memahami respons tubuh saat kecepatan meningkat.

Jika sejak awal Anda sudah berlari mendekati batas kemampuan, jangan memaksakan peningkatan pada paruh kedua. Pertahankan usaha yang aman dan sesuaikan sesi berikutnya berdasarkan hasil latihan.

Bagaimana membaca split saat lomba?

Catatan split akan lebih berguna jika tidak hanya dipakai untuk menentukan apakah Anda berlari lebih cepat atau lebih lambat. Gunakan data tersebut untuk mencari pola yang bisa membantu menyusun strategi berikutnya.

  • Paruh pertama terlalu cepat: jika pace awal jauh lebih cepat daripada target, pertimbangkan memulai lebih terkendali pada lomba berikutnya.
  • Pace turun tajam di akhir: periksa apakah target awal terlalu ambisius, latihan belum memadai, atau kondisi lomba memengaruhi performa.
  • Paruh kedua lebih cepat dan tetap terkendali: evaluasi apakah Anda masih bisa memulai sedikit lebih cepat tanpa mengorbankan bagian akhir pada kesempatan berikutnya.
  • Waktu kedua paruh hampir sama: strategi even split mungkin sudah sesuai dengan target dan kondisi Anda.

Jangan mengambil keputusan hanya dari satu angka. Perbandingan split akan lebih bermakna jika dibaca bersama jarak, elevasi lintasan, kondisi cuaca, serta tingkat usaha yang dirasakan.

Negative split berarti paruh kedua lomba diselesaikan lebih cepat daripada paruh pertama, sedangkan positive split berarti paruh kedua membutuhkan waktu lebih lama. Jika kedua paruh membutuhkan waktu yang relatif sama, pola tersebut disebut even split.

Bagi pelari rekreasional, memahami ketiganya membantu mengevaluasi pacing dan menghindari kebiasaan memulai terlalu cepat. Tidak ada satu pola yang otomatis cocok untuk semua situasi. Strategi yang baik adalah strategi yang sesuai dengan target, kemampuan, kondisi lintasan, dan usaha yang dapat dipertahankan sampai garis finis.

Bagikan artikel ini

Pelari memegang sepasang sepatu lari preloved di SepatuLari.id
Marketplace

Sepatu lari preloved, harga masuk akal

Ribuan pilihan sepatu lari second berkualitas dari pelari asli Indonesia.

Cari sepatu

Artikel lainnya

Ini Arti Start Corral dan Wave Start dalam Lomba Lari?
Informasi 7 menit

Ini Arti Start Corral dan Wave Start dalam Lomba Lari?

Start corral merupakan area penempatan peserta sebelum lomba, sedangkan wave start adalah sistem yang memberangkatkan peserta dalam beberapa gelombang. Artikel ini menjelaskan perbedaan keduanya, alasan penyelenggara membagi pelari, cara memeriksa penempatan dan jadwal, serta pengaruh gelombang start terhadap pencatatan waktu dan persiapan race day.

Oleh Tim SepatuLari.id

Apa Itu PB, PR, dan Season Best dalam Lari?
Informasi 7 menit

Apa Itu PB, PR, dan Season Best dalam Lari?

PB dan PR umumnya merujuk pada catatan terbaik pribadi, sedangkan Season Best adalah performa terbaik dalam suatu musim atau periode kompetisi. Artikel ini menjelaskan perbedaan penggunaannya, contoh catatan 5K dan 10K, cara membedakan hasil lomba resmi dengan catatan latihan, serta langkah sederhana untuk melacak perkembangan lari secara konsisten.

Oleh Tim SepatuLari.id